Dear Mars,
Aku berharap kamu bisa membaca surat ini, tanpa tawa konyolmu itu.
I Miss You
Venus
Ah seandainya aku punya keberanian sebesar yang dimiliki Jenderal Sudirman atau seandainya aku punya nyali sekuat tendangan karate Ran Mouri untuk menyerahkan pesan itu.
Ada satu hal yang menarik yang telah terjadi belakangan ini. Penggalan cerita dari buku Laskar Pelangi, dengan sukses menyentuh sisi terdalam diriku yang sudah lama terkubur oleh bermacam ego, sebuah ketidakadilan diri terhadap sisi itu, dan bermacam ketidakpercayaan.
Aku membaca kisah Ikal dengan cinta pertamanya, membuatku teringat dengan kisahku yang masih sehangat bubur kacang hijau yang baru di beli 15 menit yang lalu (kenapa harus bubur kacang ijo?!) Malam ini, akan aku coba potret ‘jejak nafas’ku di secarik kertas ini, aku coba lukiskan sebuah proses ketika, sesuatu yang paling abstrak dan susah terdefinisikan ‘itu’ telah merayap masuk, merangkak naik, dan mengalir disetiap inch perjalanan sel darah diseluruh tubuhku.
Aku selalu mengingatkan diri bahwa ketika pertama kali aku bertemu dengan Mars, ada sebuah lonceng yang berdentang nyaring di kepala ku. Ada sebuah mata air yang tiba-tiba memancar di padang kefrustasianku dalam mencari sesosok makhluk yang bisa mendekati kesempurnaan untuk menutupi ketidaksempurnaanku. Kalau aku disuruh menyebutkan kapan perubahan cara pandangku padanya dimulai, aku tidak akan pernah menemukan kata-kata yang tepat yang bisa menandakan suara gemuruh dalam hatiku, seperti sebuah hasil romanisasi para penabuh alat musik dalam sebuah acara kehormatan di depan raja-raja. Namun, aku harus menerima suatu fakta tak terbantahkan, bahwa ada jurang pemisah di antara aku dan Mars. Jurang itu keras kepala karena seberapa keras aku mengusirnya, ia masih saja muncul disana. Mengangga. Memperlihatkan suasana gelap, tak terjangkau, dan membuat jarak nyata yang memilukan.
Aku cemas, ragu, merasa telah berhalusinasi, frustasi, senang, gemetar, tidak terkontrol, sedih, tiba-tiba riang, dan segala perasaan emosi aneh terus menerus berdatangan. Mereka seolah hidup dan terus silih berganti shift yang satu dengan yang lainnya. Seakan sudah beginilah skenario perjalanan kedatangan mereka yang termaktub didalam buku takdir. Aku meragukan lonceng yang berdentang waktu itu. Aku melihat dengan jelas, bahwa kepercayaan diri pada hati ku, selalu pergi secepat kedatangannya. Dan sekarang ia belum juga hadir kembali disini. (nunjuk hati)
Ah jurang itu.
Mengapa ia berada disana?
Mengapa ia tidak pindah ke tempat antara aku dengan orang-orang yang tidak ingin aku temui. Orang-orang yang pengaruh jeleknya lebih besar daripada pengaruh baiknya untuk diriku.
Cinta
5 huruf yang rumit....
Kenapa kekuatan satu kata itu tidak diikuti oleh rombongan masa yang membawa baliho besar yang bertuliskan ‘Im confident’ ?
Terinspirasi dengan kisahnya Ikal berikut kombinasi hasil curhatanku dengan sahabatku, Sonia, disudut ruangan kamarku. Aku berhasil menebak kira-kira apa yang bisa diartikan dari seorang wanita.
Dari kisah Ikal, wanita yang disayanginya berada di posisi menyambungkan harapan. Dari sudut pandang Ikal, ia lah yang pertama kali menyukai wanita itu, dan saat mereka pertamakali bertatap muka, wanita itu secara langsung telah melambungkan harapan Ikal hingga ke puncak tertinggi. Sungguh posisi yang mudah bagi wanita itu jika dibandingkan dengan kisahku sendiri.
Mengutip dari kata-kata Sonia, ternyata wanita itu hanya bisa berharap atau menyambungkan harapan. Seorang wanita bisa mempunyai keistimewaan terindah di dunia sekaligus bisa menjadi sebuah kutukan terburuk yang pernah ada bagi kaum lelaki. Sebuah posisi yang sangat rumit.
Ah....
Setiap aku sedang pesimis, salah satu sudut terdalam jiwaku mengatakan, masih ada harapan! Tapi tiba-tiba aku seolah terperangkap dalam dinding-dinding pemikiran yang membuatku tidak yakin dengan definisi harapan itu sendiri. Dan semua kilasan memoar perjalanan merah jambu –ku muncul ke permukaan, melayang-layang dan meminta diakui eksistensinya. Inikah rasanya air yang menetes di daun talas?
Rindu. Aku mual sebenarnya dengan kata ini. Tapi demi memperjelas ‘potret’ itu, aku harus menyelipkan satu paragraf penjelasan.
Ketika aku melihat senja di balik kaca ruang kerjaku, seketika aku ingin berbicara dengannya tanpa menunjukan rasa kagum yang berlebihan sehingga aku tidak terlihat ‘wanita yang mudah’ di matanya. Aku ingin merekam kembali raut wajah yang selalu mengirim sinyal tanda tanya mengenai perilaku anehku, wajah yang bersimpatik terhadap perasaanku yang tak kunjung tertambat di jaring hatinya (aku yakin dia sudah tahu), wajah kesal ketika tidak ada yang peduli dengannya, wajah usil, dan wajah mendengarkan. Aku ingin kembali mengingat segalanya dan mengalami sebuah senja seperti itu lagi.
Aku tidak yakin sudah seberapa banyak tulisan yang ia baca dari kumpulan jurnal kepribadianku, yang selalu terbuka dan bahkan saat aku tak sadar sedang menuliskan sesuatu didalam jurnal tersebut ketika kami bertemu. Aku selalu berharap dia mengerti sesuatu dari dalam diriku, lalu memberiku sejengkal ruang untuk maju atau mundur. Sekarang, ia seolah sedang menghilang dari sudut pandang diriku yang berada di antara kedua jurang yang selalu mengangga lebar itu. Aku bahkan tidak menemukan ilusi Mars dimanapun. Aku terjebak di dalam lautan pilihan. Temukan dia atau aku lupakan dia.
Mars. Kalau memang level ‘dentangan lonceng ini’ masih tingkat satu, yaitu masih terikat oleh sesuatu sehingga kadarnya masih rendah, mengapa aku selalu merasa percaya diri sekaligus pesimis tiap kali aku menyadari keberadaanmu, ilusi maupun nyata ?
Mars, jika hujan bisa menghapus jejak-jejak merah jambu ini, aku rela jika kau pun ikut terhapus. Karena aku bisa gila jika melihat jurang itu!
Setiap bintang mencoba melintasi bumi, Aku berharap, kita bisa melemparkan gravitasi masing-masing walaupun itu terdengar kasar karena kita akan saling bertabrakan, menghancurkan planet-planet lain, meskipun itu satu-satunya cara agar kita bisa melebur menjadi satu.
Now I’m wondering, why our God give women such a hopeless situation like me? and Why the relationship should have a bunch of difficulties and complications to be fought?
Sebelum aku mendapatkan jawabannya, aku sepertinya harus terus berusaha fokus pada tumpukan berkas-berkas di meja kantorku, surat-surat tagihan, janji makan malam, dan pekerjaan membereskan rumah. Sebuah rutinitas yang berteriak cukup lantang : aku masih punya kehidupan lain selain mengurusi namamu di kepalaku!
Ah...potret itu kini semakin jelas
Bukan wajahmu yang tampak
Aku pandangi potret jejak seorang wanita yang cukup lama menanti sebuah keajaiban. Bukan menciptakan keajaiban itu sendiri, karena ia tidak cukup bekal serta dukungan secara moril maupun materi dari orang-orang sekitarnya, bahkan tidak ada pacuan dari dirinya sendiri.
Aku telah menemukan keajaiban diriku dalam potret itu
Dear Mars,
The miracle is a thing. But in my case, you are the miracle who returns into something. Just a something.
Happily, Venus.
===
Muahahaha, kasih komen buat cerpen ini ya kawan (siapa pun yang baca), saya tau, masih banyak yang harus ditambal disana sini.
Gumawo~
Termakasih :)
:-bd materinya dikemas begitu apik dan melankoliis, bener2 calon penulis :)
ReplyDeleteamin
wahaha melankolis gt ya?
Deleteamiiin amin.
makasiih ;)