Apresiasi Bahasa dan Seni
2011; Memorabilia Sonata
Mungkin ini terdengar berlebihan, lebay, atau kurang kerjaan. Tapi saya
ngerasa tulisan ini penting untuk dibuat, minimal buat saya
sendiri yang pelupa dan sering ga inget sama sekali apa yang saya pernah rasakan di masa lalu
*peace*. Walaupun terkadang kata-kata yang telah dirangkai sulit
merekam kejadian dan perasaan yang sebenarnya, tapi setidaknya kata-kata itu
dapat memicu kembali kenangan yang tersimpan di dalam ingatan jangka panjang
yang lama terkubur oleh kenangan-kenangan yang lebih baru (ciee bahasanya XD )
Surprisingly, masih teringat di benak saya sebuah sore di sebuah ruangan di lantai 5
FPBS, awal pertemuan saya dengan teman-teman tari untuk opening ABS. Tentu saja beberapa orang dari kami mungkin pernah berpapasan
dan sudah dekat sebelumnya, tapi ada juga orang yang belum kami kenal atau
dekat satu sama lain. Bahkan ada aja yang baru ngeh kalau si X atau si XY itu ternyata kuliah di jurusan yang sama
:D. Kami melakukan latihan hingga malam hari. Cukup melelahkan, hareudang, dan juga kelaperan. Waktu itu
ada wisudaan di kampus yang ngebuat jalanan di sekitar Setiabudhi macet total, sampe jalan
mau ke kosan aja ribet banget.
Hari H pun tiba. Kami
latihan ulang untuk yang terakhir kalinya sebelum bener-bener tampil. Anehnya perasaan
tuh kaya hari itu bukan hari H. Nyantei banget. Sampe akhirnya kami masuk ke
lorong dibelakang panggung, berbaris tanpa suara sebelum kami menunjukan hasil
latihan dan usahan kami selama ini. Sadar kalau tarian ini jadi pembuka untuk acara keseluruhan dan menentukan kesan
pertama buat penonton, dan sadar harus jalan ke panggung dengan hitungan yang
tepat tanpa telat sedetikpun, saya mulai gugup. Banget .
Tepat ketika musik
tradisional selesai dimainkan, kami pun masuk ke ‘arena’ dengan pakaian putih
(ala pasien RSJ mahasiswi akper/ibu-ibu mau manasik) kami. Lampu-lampu,
kamera-kamera (mulai dari kamera handphone
sampai handycam), dan mata penonton
mulai fokus sama –ehm- kami . Begitu masuk ke tarian inti dan ekspresi wajah
mulai mudah dimunculkan, rasa gugup itu perlahan berkurang hingga akhirnya
hilang. Cahaya biru yang menyinari kami (duh bahasanyee) bikin silau! Jadi muka
penonton engga begitu keliatan jadinya ya pas nari nyantei aja gitu hehehe.
Selesai nari, kami kembali ke belakang panggung. Daan betapa senangnya karena
saat itu kami ngerasa engga ada kesalahan sama sekali. Puas banget sama tarian
tadi.
Drama musikal itu akhirnya
masuk ke babak akhir. Saya dan teman-teman tari kontemporer harus nari lagi
buat closing. Saya ngerasa ga segugup
yang pertama. Begitu lagu tanah air selesai dinyanyikan, kami masuk lagi ke
panggung. Nari lagi. Ber-ekspresi lagi. Ngitung ketukan lagi biar sama kaya
yang lain. Berpose lagi dengan lentera punya emang gorengan, daaaan teriakan dramatis
kami menutup tarian sekaligus menutup drama musikal Memorabilia Sonata pada
hari itu.
Rasanya gimana ya? Hmm bentar saya coba buat itu sederhana:
Seneng. Banget. Karena akhirnya semua
udah selesai. Tapi sebel banget, beberapa saat setelahnya saya sedih. Iya
sedih, hahaha. Saya baru sadar ternyata saya nikmatin proses latihan pada saat
itu karena ini bukanlah sesuatu yang bikin stres kaya tugas kuliah atau UAS
kemaren. Semuanya ‘cuma’ fokus ke gerakan, musik, sama ekspresi dimana tiga hal
itu jauh lebih ‘enteng’ dibanding harus ngehapal bab 2-5, bab 9 dan bab 11-14
buku evaluasi pembelajaran. (note: tanda kutip disini nandain pendapat tersebut
murni subjektifitas saya. Kalau ada yang beda, yah berarti beda. #IyainAja)
No comments:
Post a Comment