New Album
Aku lelah dengan segala aktifitasku. Lagi-lagi aku harus menghadapi les, tes, tambahan di tempat bimbel dan lain lain. Semua hal itu terus berputar di seluruh waktu yang aku punya – yang sangat terbatas itu – tujuh hari yang sangat cepat tetapi dilalui itu.
Aku terjebak diantara segudang kegiatan yang menguras pikiran dan energiku, yeah sebenarnya ga ada yang menyuruhku untuk seperti itu. Aku bisa memilih untuk melaksanakan kegiatan apa saja yang aku suka dan tidak membuat lelah. Namun semua pilihan-pilihan itu demi menggapai cita-citaku. Keinginan yang sangat kuat untuk masuk fakultas kedokteran dengan sukses membuatku bertingkah bagai sebuah robot tanpa pelumas. Setiap berjalan menimbulkan suara gesekan besi yang berdecit dan berjalan terseok-seok sehingga walaupun dipaksa untuk cepat melangkah, aku masih tetap tertinggal dibelakang diantara yang lain.
Aku benar-benar frustasi. Bagaimana tidak, hari-hariku selalu dipenuhi oleh ketidakpuasaan dan kelelahan yang membuat stress. Bukannya malah semakin bersemangat, aku terus merasa terbebani . Tangisku pun pecah begitu aku tiba dirumah setelah menemukan namaku berada diperingkat ke 513 dari 520 siswa pada hasil try out yang ditempel disekolah.
Ibuku yang sedang membawa handuk kering untuk digantung dekat kamarku, mendengar tangisku dan membuka pintu seraya menjulurkan kepalanya dan mengecek kondisi putri sulungnya.
“Kakak sudah makan?” pertanyaan ibu mengingatkan perutku yang sejak siang belum terisi makanan sedikitpun.
Aku menggeleng sambil sesenggukan. Ibu tersenyum lembut, ia berjanji akan membawakanku makan malam.
Beberapa saat setelah ibu pergi, pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar dengan cukup kencang. Begitu pintu terbuka, terlihat ada Ayah sedang membawa sebuah bungkusan berwarna biru muda, warna kesukaanku.
“coba dibuka, Kak. Siapa tau ada kakak disana” setelah memberikan itu, Ayah segera meninggalkan kamarku. Aku pun secara otomatis berhenti menangis karena apabila Ayah sudah menemukanku di keadaan seperti ini, itu tandanya ibu yang meminta bantuan, dan itu pertanda masalahku cukup berat untuk ditangani Ibu.
Bungkusan itu aku buka dan ternyata isinya adalah sebuah album foto dengan namaku tertera disana.
Sofhia
Album itu berbeda dari sekian album fotoku yang telah berjumlah 10 buah.
Aku membuka halaman pertama , disana terlihat ada foto hasil usg minggu ke1 hingga minggu ke 16 dengan segala puja dan puji Ibu kepada yang Maha Kuasa. Nafasku tertahan begitu aku mengetahui bahwa kelahiranku merupakan kelahiran yang paling ditunggu diantara 5 kelahiran yang lain.
Album ini sangat berbeda dengan album yang pernah aku lihat sebelumnya. Disini tidak terlihat satupun saudara-saudara ku. Aku yang merupakan anak sulung dari 5 bersaudara selalu terus bersama keluargaku. Adikku yang laki-laki bernama hafiz, musa, dan ghani , sedangkan saudari perempuanku hanya ghanika. Mereka semua selalu muncul dalam setiap album foto keluargaku. Namun kali ini berbeda. Sungguh, tidak ada satupun dari wajah-wajah polos mereka yang ada di album kali ini.
Disini semua fase-fase pertumbuhanku disimpan. Terlihat disana, ada fotoku yang masih berumur 1 hari hingga 1 tahun dengan berbagai gaya dan ekspresi wajahku yang polos membuatku tampak sangat tidak berdosa. Penuh dengan harapan dan segenap kebahagiaan yang diterima. Aku benar-benar anak yang dimanja. Sejak kecil aku sudah dibawa keberbagai negara, aku pernah mengunjungi banyak tempat indah, namun aku belum cukup peka mengingatnya. Usiaku telah menginjak 7 tahun ketika orangtuaku mendapatkan Ghani dan Ghanika, anak kembar identik yang sejak kecil selalu membuat repot kedua orangtuaku. Kami memang keluarga berada, namun biarpun dirumah terdapat 3 orang pengasuh, tidak ada yang dapat menggantikan posisi ibu di kehidupanku. Tentu saja, anak mana yang rela berbagi ibunya dengan orang lain? Oh apakah aku egois?
Mimpi burukku terjadi sejak berumur tujuh tahun.
Aku saat ini sedang dalam suasana buruk, aku tidak ingin memperparahnya dengan semua hal-hal konyol yang pernah aku pikirkan diwaktu kecil.
Mataku terhenti di sebuah foto ulang tahunku yang ke 6. Ayah dan ibu sedang mencium kedua pipiku dan aku tersenyum lebar hingga kedua gigiku yang ompong terlihat dengan jelas. Walaupun saat itu aku baru kelas dua SD dan tidak pernah masuk 3 besar disekolah, orangtua ku sepertinya sangat bangga sekali terhadap putrinya ini hingga ulangtahun yang ke 6 pun harus dirayakan 2 kali. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mendapatkan perhatian khusus seperti ini.
Halaman berganti, terpampang berbelas-belas foto yang menunjukan keseharianku, dimulai dari aku bangun tidur, wajah yang malas mandi, pergi sekolah, pulang sekolah, makan siang, tidur siang, saat mengerjakan PR hingga saat aku kembali tertidur kembali. Aku sampai heran, siapakah yang rela memotretku dari pagi hingga petang?
Halaman ke 15 . aku melihat diriku mengenakan seragam SMP. Aku tidak ingat kapan diambil foto ini. Terlihat sekali aku bersemangat menuju sekolah baruku. Halaman berikutnya, terlihat aku sedang bercengkrama dengan teman-teman disekolah. Lalu di halaman berikutnya, aku sedang memakai sepatu. Tunggu, aku ternyata sudah mengenakan seragam smu. Dan halaman-halaman selanjutnya pun kosong. Foto terakhir adalah foto punggungku yang sedang memakai ransel sekolah berwarna coklat dengan tangan kiri memegang map biru berisi puluhan kertas ujian sedangkan tangan kanan menenteng tas laptop milik ayah. Dibawahnya tertulis tanggal dimana aku baru memasuki semester kedua dikelas 3SMU.
Foto terakhir yang diambil, kentara sekali bahwa aku semakin jarang dirumah. Aku semakin jauh dengan keluargaku.
Aku ingat, selama 3 bulan ini, aku tidak pernah pulang kerumah lagi dibawah jam 8 malam. Kalau tidak gara-gara ikut tambahan belajar di tempat bimbel, aku ada acara kerja kelompok plus-plus yang berarti banyak ngobrol-ngobrolnya dibanding belajar. Bahkan syukuran ulangtahun adikku yang terakhir pun , aku tidak menghadirinya. Aku yakin, acara itu sangat menarik karena mereka merayakannya bersama 100 orang anak-anak kurang mampu di dalam sebuah yayasan peduli anak.
Secarik kertas membawaku kembali melamun kebeberapa hari yang lalu dimana aku pulang sekolah dengan segudang emosi yang aku tumpahkan pada ibuku. Padahal itu masalah disekolah. Aku malah menyalahkan beliau dengan mengatakan bahwa Aku lelah merasa ‘sendiri’. Aku malu sendiri jika mengingat kejadian itu
Surat itu berisi :
Sekarang saatnya seorang Sofhia, putri sulung kami, untuk membuat sendiri ‘album foto’nya. Ibu merasa kamu sudah bisa bertanggung jawab pada diri kamu sendiri. Kakak, buatlah kami bangga tanpa kakak harus melepaskan kebahagiaan kakak sendiri. Ayah dan ibu akan selalu mendukung kakak J
Tiba-tiba saja aku merasa pipiku mulai basah.
Selama ini aku merasa sendiri. Aku merasa tak ada yang bisa membantu aku keluar dari segala masalah. Aku merasa tersiksa dan menyesal telah dilahirkan.well, mungkin terdengar berlebihan, tapi terkadang itulah yang aku rasakan ketika benar-benar telah berada di jurang keputus asaan. Dan akhirnya Aku menyadari, aku sendirilah yang membuat aku jauh terpisah dari keluargaku. Melihat album ini, hatiku tergugah kembali. Aku bukan hanya telah diberi kepercayaan oleh Ibu. Aku telah diberi semangat baru oleh ibu.
Berjalan – jalan sendirian bukan berarti aku tidak punya teman. Aku merasa sendiri, itu hanya di dalam fikiran!. Aku masih punya adik-adikku. Walaupun aku bukan yang terbaik, tapi aku adalah aku.
Aku selama ini telah berhasil melewati segala rintangan, terbukti dengan akulah yang paling sedikit menyusahkan kedua orangtua ku karena kemana-mana aku lakukan sendiri. Aku sejak SD tidak pernah meminta diantar jemput kesekolah. Tidak pernah pulang malam untuk hal yang tidak baik. Walaupun tidak masuk 10 besar, setidaknya aku masih bisa mengajari adik-adikku belajar mengaji. Aku tidak secantik Ghanika atau tidak sepintar dia. Aku tidak se murah hati Ghani , tidak sepemberani atau se kreatif Hafiz, tidak seberbakat Ghanika (lagi-lagi dia), tidak pantang menyerah seperti Musa.
Namun keberadaanku menjadi pelengkap. Aku adalah seseorang yang melengkapi ketidaksempurnaan keluarga kami yang sebenarnya hampir menjadi keluarga tersempurna (dengan 5 anak berbakat yang selalu meraih peringkat satu disekolah dan ditempat mengaji)
Rasa lelahku seketika hilang.
Aku pun berlari menuju ruang keluarga yang telah penuh sesak oleh hawa kebahagiaan. Aku tidak sabar untuk bermain dengan Ghanika dan bermain kata dengan Ghani. Aku juga tidak sabar untuk berdebat dengan Ayah tentang hal-hal menarik di luar sana atau memasak makanan enak bersama ibu. Aku akan selalu menyempatkan diri berada ditengah-tengah mereka dan sejenak melupakan bahwa akulah satu-satunya anak perempuan dengan tanggung jawab tertinggi. Ghanika yang masih berusia 10 tahun, belum siap akan hal ini. Aku sedikit senang saat memikirkan hal ini (mengingat satu-satunya yang kuanggap saingan berat adalah dia)
Ibu melihat kedatanganku. Ia membuka tangannya lebar-lebar dan aku menyambutnya dengan pelukan erat. Aku banyak mengucapkan terimakasih padanya dan beliau hanya tersenyum dan air matanya pun tumpah. Seluruh anggota keluarga yang ada disana saling melempar pandang heran (karena ini adalah pertamakalinya aku seperti ini dihadapan mereka) dan tiba-tiba dengan jenaka Ghani merenggut tangan ibu dan bilang kalau ia juga ingin dipeluk. Kami semua pun tertawa. Aku melempar pandangan pada Ayah yang sedang tersenyum lebar ke arahku. Album yang beliau berikan (walaupun sebenarnya itu buatan ibu) telah berhasil mengubah segala cara pandangku.
Terimakasih Tuhan karena engkau telah menghadirkanku ketengah-tengah keluarga yang kehangatannya melebihi sinar mentari di pagi hari.
No comments:
Post a Comment