Tuesday, August 9, 2011

REVIEW : Negeri 5 Menara


Selasa, 9 Agustus 2011

     Baru selesai membaca buku Negeri 5 Menara (finally!) dan berikut adalah komentar dari sisi saya, seorang remaja (umur 17 masih dibilang remaja kan?) yang selama ini masih belum mempunyai tujuan hidup yang cukup tepat.
     Awalnya saya cukup malas meneruskan membaca buku yang seperti kumpulan diary seorang pemuda yang berhasil menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren. Saya juga terkena virus iri yang membuat buku ini semakin sering saya tinggalkan. Iri karena selama ini saya berharap bisa berbahasa asing selain Inggris (Sekaranjuga bisa dibilang belum bisa-bisa amat) tapi belum nemu tempat yang pas buat belajar lebih banyak mengenai dunia kebahasaan. Namun pada pagi ini, saya melupakan rasa iri tersebut dan ketagihan untuk segera menyelesaikan membaca buku itu. Betapa besar ya efek tadarusan itu kawan! 
     Pukul 13.35 hari ini saya akhirnya selesai membaca lembaran kisah 5 orang anak manusia yang saling melebarkan mimpi lalu dengan sedikit usaha yang lebih dari orang lain, mereka berhasil menggapai cita-cita mereka. Kesan pertama saat menyelami kisah mereka adalah, saya tidak percaya di Indonesia ada sebuah tempat menuntut ilmu dengan sistem seperti Pondok Madani! Saya ingin sekali belajar di tempat tersebut walaupun saya harus berdamai dengan setumpuk aturan ketat yang bisa membuat siapa saja mungkin tidak akan betah tinggal disana.
     Saya sangat mengagumi sistem belajar disana yang sepertinya jika diterapkan disemua sekolah di Indonesia, Insya allah generasi muda Indonesia bisa menjadi generasi terbaik yang pernah ada dari generasi sebelumnya. Menurut saya, sudah saatnya sistem pendidikan itu di ubah, dibuat sesuatu yang dapat meningkatkan ilmu seseorang (yang mudah dipraktekan di kehidupan sehari-hari) dan membuat suatu kesan mendalam terhadap semua murid sehingga mereka lebih mencintai sekolah. Selama ini saya jarang sekali bertemu dengan seseorang yang bisa merasakan manfaat bersekolah. Teman-teman saya lebih banyak mengeluh daripada bersemangat (yaah termasuk saya sendiri #eeeh ) Oke mungkin kita tidak perlu menerapkan semuanya secara langsung, bertahap saja, yang penting sampai pada tujuan.
     Kesan kedua saya, tentu saja menjadi semakin termotivasi! Sekarang saya harus benar-benar mengarahkan diri saya pada tujuan akhir yang ingin dicapai. Tujuan yang bukan sekadar pengaruh dari keluarga, teman, atau orang lain. Tapi tujuan atau cita-cita yang memang berasal dari hati kita. Ehm. Semakin kita berusaha, semakin dekat lah kita dengan harapan-harapan itu.
     Menurut saya buku ini cukup dibaca sekali saja untuk mendapatkan pelajaran di dalamnya karena bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan diterapkan. Kalau untuk dikoleksi , bagus sih, tapi buat saya tidak dikoleksi juga tidak apa-apa. Tapi karena saya baca membukunya dari hasil membeli dipalasari (dan ternyata buku itu bukan asli), yah terpaksa di koleksi (jadi curhat -____-“ ) sukur-sukur bisa dibaca juga oleh orang lain jadi manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.
     Negeri 5 Menara mengajak saya untuk segera mewujudkan semua cita-cita tanpa menyerah. Menerangkan konsep keikhlasan didalam hidup, kesungguhan dalam bekerja, dan selalu bertawakal kepada Allah SWT. Bagaimanapun, usaha tanpa doa bukanlah apa-apa. Begitupula dengan Doa, jika tanpa usaha tidak akan menghasilkan sesuatu yang diinginkan.
8/10

No comments:

Post a Comment