Thursday, February 9, 2012

Buka Buku-nya : Kehormatan Di Balik Kerudung

Kamis, 19 Januari 2012

Akhirnya, setelah berbulan bulan buku berjudul ‘kehormatan di balik kerudung’ itu tertumpuk buku lain di meja, sekarang terbaca sudah semuanya.

Aku ingat, hanya 4 kali aku dudukkan diri ini dan membacanya lalu selesai sudah. Hari ini dari jam 7 hingga 11.50 aku memenuhi utang janji menyelesaikan buku pinjaman dari seorang teman. Pertama-tama, aku ingin memberi nilai 9 untuk emosi yang dimainkan di dalamnya, 6 untuk konflik, 7 untuk akhir yang disajikan.

Nilai 9 untuk pembulak balik emosi

Iya, seriusan, aku bener-bener hanyut ke dalam 4 sudut pandang disetiap alur cerita. Pada bagian awal cerita, aku masuk ke dalam sudut pandang syahdu, berada di posisi dia. Bagian tengah, aku hinggap di pandangan Ifand, makin ke belakang aku berada di dunia Sofi. Dan disamping semua emosi yang aku rasain, aku berada diantara semua sudut pandang. Aku masuk kedalam 3 dunia sekaligus tetapi masih berdiri di sebuah posisi yaitu menjadi seorang pembaca.

Di tengah cerita, aku sempat menangis.Aku meluapkan emosi lalu aku berhasil menuntaskannya. Aku mengeluarkan ego sebagai wanita agar menangis bisa hapuskan kesedihan, lalu mulai berfikir kritis, bahwa cinta terhadap seseorang, bukan segalanya di dunia ini. Seseorang yang kita anggap pantas, belum tentu mulia di mata tuhan. Tuhan maha segalanya. Tuhan sudah merencanakan skenario terbaik untuk hidup kita. #eaaa

Selama membaca, yang dimaksud sebagai pembulak balik emosi adalah, aku tidak bisa berpihak pada salah satu tokoh. Ketiganya mamiliki sisi yang jelas sekaligus menyamarkan kepada siapa kita hendak memberikan dukungan. Aku terkejut dengan ‘drama’ terakhir yang dituliskan tentang cerita dibalik keputusan Syahdu dalam mencoba mencari kebenaran suatu kebahagiaan dalam sudut pandang dirinya.  Tidak ada yang patut di salahkan. Tidak ada yang patut dipuji. Semuanya seimbang. Berbagai sisi telah di ungkapkan dalam buku ini. Pelajaran moral sederhana yang bisa aku tangkap ialah, ternyata cinta itu bisa mendatangkan kebahagiaan sekaligus musibah.

Gaya bahasa yang digunakan penulis pada awalnya sedikit membuat bingung dan jadi kepikiran ...uhm ga pas dihati. Tapi seiring dengan munculnya berbagai macam konflik (terutama batin), aku mulai menikmati cara penulisannya. Ada beberapa bagian yang membuat sedih, hati ini begitu pilu. Satu kekurangannya, humor.
Aku sudah terbiasa dengan buku yang mengundang tawa. Dan aku emang orangnya gampang tertawa (naoooon sih?! Haha) jadi ke-alpaan esensi humor di buku ini bikin aku sedikit mengurangi nilai untuk buku ini. Iya iya, subjektif banget ya aku nilainya?

Nah  balik lagi sama penilaian. Kenapa aku beri 6 untuk konflik? Sebenarnya 5 poin pertama didapat karena penulis sukses menyeretku ke konflik batin tokoh-tokohnya. Dan 1 poin di dapat dari alur cerita yang membuat ketagihan ingin segera baca hingga habis. Tapiiiii....aku terlalu ummm kritis (?) aku kurang sreg dengan sumber malapetaka dari keseluruhan cerita, yaitu cinta. Wuahaha geli sendiri bacanya. Nah jadi ya itu,nah, hmmmm, nilainya bisa naik sih, kan emang tema awalnya tentang cinta, ya ga? Oke nilainya jadi 8 deh.,
Nilai 7 untuk endingnya. Tanya kenapa?
Karena,  penulis bikin ending yang happy buat ketiganya. Jadi mereka bisa hidup bersama-sama. Tapi yang jadi kekhawatiranku adalah, poligami jadi bisa dibenarkan asal ada landasam cinta yang kuat. Konflik-konflik yang bersifat bumbu rumah tangga akan di buat kecil. Boleh juga sih ide nya. Tapi aku tidak menerima adanya 2 istri di dalam sebuah ikatan pernikahan.

Sekarang pandangan yang paling subjektif dari semua penilaian aku tentang buku ini ya : 
Buku ini mengajarkanku, betapa berharga nya seorang wanita yang bisa mengatakan bahwa inilah ia. Jadi diri sendiri dan terus berusaha bergerak ke arah wanita yang dirindu surga. Wanita penyayang akan disayangi oleh orang-orang disekitarnya juga.
Catatan buat diriku sendiri : jadilah diri sendiri dan terus menjadi wanita yang lebih baik, menuju sebuah kesempurnaan seorang wanita sholehah.

No comments:

Post a Comment