Friday, February 24, 2012

Kevin : Belenggu Masa Lalu - Torey Hayden

Rabu, 22 Febuari 2012

   Kalian tahu kan perasaan sedih yang seolah bertumpuk tapi tidak bisa dikeluarkan oleh kata-kata maupun suatu titik air mata? Perasaan itu begitu memberikan tekanan hebat, seolah ada benda tak terlihat yang menghimpit dada, memberatkan kepala, tapi sulit untuk dihilangkan.
   Perasaan inilah yang sedang aku alami saat ini, ketika semua ‘perjuangan’ ku dalam membaca sebuah kisah perjuangan Torey Hayden dalam berurusan dengan Kevin selama dua setengah tahun, akhirnya telah bertemu dengan halaman akhir. Saatnya untuk berpisah. Bukan hanya Torey yang sedang bersusah payah menghentikan perasaan sedihnya saat berpisah dengan Kevin yang tertulis di halaman 610, tapi disini aku juga sedang berusaha untuk bersikap biasa saja dengan kemungkinan di masa depan aku sudah tidak perlu bersusah payah duduk berjam-jam menggeluti kata demi kata di buku ini.
  Seorang psikolog yang berdedikasi tinggi terhadap semua pekerjaan yang tengah di kerjakannya, itulah gambaran Torey. 4 jempol buat dia! Seratus persen aku ngefans sama kesabarannya dia dan kesungguhannya dalam mewujudkan visi menyembuhkan orang-orang kurang beruntung secara mental.
  Buku ini mungkin bisa dijadikan sebuah pojok khusus di dalam sebuah ruang universitas kehidupan yang begitu luas. Disini aku menemukan beragam hal. Pasang surut perkembangan diri seorang manusia normal terwakili dengan naik turunnya perkembangan mental Kevin. Aku saja hampir frustasi ketika membaca beberapa bagian buku yang mengatakan bahwa kevin ini tanpa harapan. Torey harus berkali kali berada dalam masalah : kebisuan. Ia bahkan mengalami pelecehan seksual dari Kevin yang dilakukan secara tidak sadar. Tapi ada seribu volt kekuatan atau bahkan lebih yang membuat ia tetap bertahan. Inilah hal terbesar yang harus diikuti dari seorang sosok wanita ‘tangguh’ bernama Torey Hayden. 
  Pada awal-awal cerita, aku bisa membaca dengan mudah. Maksudnya diluar waktu kosong yang aku sengaja luangkan untuk membaca yang cukup terbatas, pada minggu pertama aku membaca, buku ini sudah terlihat sangat menarik dimata ku. Bagaimana tidak, pada lembar pertama, aku menemukan tulisan berbunyi “kita merasakan kebahagiaan tertinggi saat mengetahui bahwa kita dicintai - Victor Hugo” Namun hampir 3 minggu setelahnya aku merasa pikiranku lelah membaca cerita yang tak kunjung berakhir. Jatuh bangunnya perjuangan seorang psikolog ternyata hampir membuatku meninggalkan cita-cita untuk menggeluti dunia kejiwaan manusia. 


  Pada bagian hampir akhir buku, aku ternyata baru menemukan sisi humor dan meaningfulnya kata-kata Torey. Contohnya ada pada beberapa dialog dibawah ini :
  •    halaman 532
“maksudku, bagimana kita akan meninggalkan mereka? Ibu dan ayah tirimu adalah bagian dari kehidupanmu, Kevin. Hal-hal yang mereka lakukan kepadamu, benar atau salah, adalah bagian dari hidupmu juga. Dan sekali suatu hal sudah terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan seorang pun untuk mengembalikannya seperti semua sebelum terjadi. Sudah terjadi. Kita tidak akan bisa kembali lagi. Kita tidak bisa mengubah hal-hal yang sudah terjadi. Kamu, aku atau para penyuluh, tak seorang pun dari kami yang bisa berbuat sesuatu supaya ayah tirimu tidak memukulimu selama sepuluh tahun yang lalu atau supaya ibumu maju dan mencegah apa yang terjadi pada Carol. Atau apapun itu. Itu sudah terjadi. Selesai. Kita tidak bisa mengubahnya lagi. Yang bisa kita lakukan adalah menerima itu sudah terjadi dan terus maju ke depan sebaik mungkin yang kita bisa”

·         Halaman 543 “......Masa remaja adalah saat yang berat dalam kehidupan seorang anak, untuk semua anak....”

·             Halaman 592
Aku bertanya, bahwa Kevin memiliki masalah emosional dan, walau sudah mengalami banyak kemajuan, dia tidak bisa dikatakan bebas masalah? Tahukah dia bahwa suatu saat akan datang ketika masa lalu Kevin datang kembali menghantuinya?
“ya” katanya. “Tidakkah begitu pada kita semua?

·         Halaman 582
“dengar, Kevin, aku tahu kamu kecewa. Aku tahu kamu tidak senang. Yang telah terjadi adalah hal buruk yang harus dilalui. Tapi, itu sudah berakhir dan selesai; dan dunia tidak akan kiamat karenanya. Jadi, mari kita periksa apa yang salah supaya tidak terjadi lagi

·         Halaman 565
“....sekedar berkata kata tidak berarti apapun. Tindakan adalah segalanya

  Dalam proses penyelesaian membaca bukunya – cieh apaan sih – aku ditemani beberapa lagu yang tanpa sengaja terputar di winamp laptop. Ada Good bye nya Ra.D , terus Dear Mom nya SNSD, Miss You – MYMP, The Call – Regina Spektor, dan sekarang Swear it again nya Westlife, yang mendadak lirik lagu di sana cocok dengan situasi saat ini. Well, sekarang track list di winamp bener-bener udah habis. Mungkin aku juga harus mengakhiri sesi menulis kali ini. Haha.

  Kesimpulan, buku ini layak mendapat bintang 9. Cukup membuka sedikit jendela wawasan tentang sedikit potongan kehidupan seorang psikolog, dan rekan ‘spesial’ mereka.

(mungkin ini bukan resensi buku yang baik, maaf, saya masih dalam tahap belajar ^^ )

No comments:

Post a Comment