Saturday, May 5, 2012

Pengalaman di Writing Competition

  Sepenggal kisah ini pengen banget aku ketawain habis-habisan, walaupun banyak makna yang bisa aku ambil.
  Lomba ini baru di sosialisasikan pada hari selasa, dua hari sebelum lomba diselenggarakan. Awalnya aku sama sekali tidak memikirkan untuk ikut serta akan tetapi malamnya tiba-tiba saja ada sms masuk dari Deasy – teman sekelasku
  Res, Fel, kalian jadi ikut lomba nulis ga? Mau aku daftarin nih. Kirimin nama sama NIM kalian yaa.
  Pertama baca, loh kok seakan-akan aku emang awalnya udah bilang mau ikut, padahal didiskusiin aja belum pernah. Tapi tanpa berlama-lama mantengin layar hape, aku bales sms dia yang berisi pernyataan aku ikut lomba. Dan sampailah aku di hari H.
  Mengikuti sebuah perlombaan tanpa melakukan persiapan adalah hal terbodoh yang baru terasa sangat bodoh ketika tema lomba dibagikan. Waktu yang disiapkan adalah 3 jam yang hanya terpakai olehku sekitar satu jam.
  Begitu baca lima topik yang bisa kita pilih, keningku langsung berkerut,
  Aku colek temenku yang duduk tepat di depanku
  “fa, eksposisi tuh ajakan bukan?”
  “iya”
  Beberapa menit kemudian – panitia masih membacakan petunjuk pelaksanaan
  “fa, fuel  tuh apaan?”
  “minyak fel”
  Sumpah, aku yang merupakan seorang mahasiswi jurusan bahasa inggris, saat itu pengen banget loncat dari jendela lantai 4, dan begitu siuman udah jadi mahasiswi jurusan seni tari. Aku malu dan akhirnya cuma bisa ketawa pasrah sambil nyorat-nyoret selembar kertas yang aku sobek paksa dari binder butut yang aku punya dari jaman SD.
  Tepat sejam setelah lomba dimulai, leher dan punggung aku udah pegel-pegel. Tulisan udah rampung, tinggal dikasih judul. Topik yang aku angkat tentang korupsi. Belakangan aku baru nyadar kalau aku telah menggabungkan kasus Nazarudin dengan Gayus which is totally fail!. Aku bahkan lupa bahasa inggris-nya rambut palsu.
  Aku melirik ke samping, Restu, temen sekelasku yang lain masih sibuk nulis-nulis di kertas ‘kotretannya’. Aku cari deasy, dia juga sibuk mengisi kertas bindernya yang udah abis 3 lembar. Mereka berikut puluhan peserta lainnya dari berbagai semester sedang asyik (atau meng-asyik-kan diri?) dengan tulisan mereka. Ketika aku lagi senewen mencari kalimat lain untuk di jejali di kertas folio yang masih kosong itu, ada seorang peserta yang meminta kepada panitia selembar folio tambahan. Tuhan, keluarkan aku dari siniii >.<
  Akhirnya setelah kertas kotretan aku habis dicorat-coret dan digambari sembarangan, aku pun keluar ruangan. Menghela nafas panjang dan berharap tulisanku tidak ditertawakan oleh keempat dewan juri yang terhormat.
  Yah setidaknya sehabis perlombaan lumayan aku dapat snack gratis.
 Pelajaran yang bisa – banget – diambil adalah, ternyata oh ternyata, sebuah persiapan sangatlah dibutuhkan kawan!
 Kita tidak bisa hanya mengandalkan ingatan kita yang terkadang sangat seadanya. Seorang pemenang adalah orang yang banyak persiapannya selain berusaha keras disaat mengikuti sebuah kompetisi.
 Aku menyadari itu semua ketika pulang ke kosan, makan snack karena cukup kelaperan, dan memindai ulang semua kejadian yang baru aja terjadi. Untung engga sambil masang musik galau hahaha.

1 comment: