Sepenggal kisah ini pengen banget aku ketawain
habis-habisan, walaupun banyak makna yang bisa aku ambil.
Lomba ini baru di sosialisasikan pada hari selasa, dua hari
sebelum lomba diselenggarakan. Awalnya aku sama sekali tidak memikirkan untuk
ikut serta akan tetapi malamnya tiba-tiba saja ada sms masuk dari Deasy – teman
sekelasku
Res, Fel, kalian jadi ikut lomba nulis ga? Mau aku daftarin nih.
Kirimin nama sama NIM kalian yaa.
Pertama baca, loh kok seakan-akan aku emang awalnya udah bilang
mau ikut, padahal didiskusiin aja belum pernah. Tapi tanpa berlama-lama
mantengin layar hape, aku bales sms dia yang berisi pernyataan aku ikut lomba. Dan sampailah aku di hari H.
Mengikuti sebuah perlombaan tanpa melakukan persiapan adalah hal
terbodoh yang baru terasa sangat bodoh ketika tema lomba dibagikan. Waktu yang
disiapkan adalah 3 jam yang hanya terpakai olehku sekitar satu jam.
Begitu baca lima topik yang bisa kita pilih, keningku langsung
berkerut,
Aku colek temenku yang duduk tepat di depanku
“fa, eksposisi tuh ajakan bukan?”
“iya”
Beberapa menit kemudian – panitia masih membacakan petunjuk
pelaksanaan
“fa, fuel tuh apaan?”
“minyak fel”
Sumpah, aku yang merupakan seorang mahasiswi jurusan bahasa
inggris, saat itu pengen banget loncat dari jendela lantai 4, dan begitu siuman
udah jadi mahasiswi jurusan seni tari. Aku malu dan akhirnya cuma bisa ketawa
pasrah sambil nyorat-nyoret selembar kertas yang aku sobek paksa dari binder
butut yang aku punya dari jaman SD.
Tepat sejam setelah lomba dimulai, leher dan punggung aku udah
pegel-pegel. Tulisan udah rampung, tinggal dikasih judul. Topik yang aku angkat
tentang korupsi. Belakangan aku baru nyadar kalau aku telah menggabungkan kasus
Nazarudin dengan Gayus which is totally
fail!. Aku bahkan lupa bahasa inggris-nya rambut palsu.
Aku melirik ke samping, Restu, temen sekelasku yang lain masih
sibuk nulis-nulis di kertas ‘kotretannya’. Aku cari deasy, dia juga sibuk
mengisi kertas bindernya yang udah abis 3 lembar. Mereka berikut puluhan
peserta lainnya dari berbagai semester sedang asyik (atau meng-asyik-kan diri?)
dengan tulisan mereka. Ketika aku lagi senewen
mencari kalimat lain untuk di jejali di kertas folio yang masih kosong itu, ada
seorang peserta yang meminta kepada panitia selembar folio tambahan. Tuhan,
keluarkan aku dari siniii >.<
Akhirnya setelah kertas kotretan aku habis dicorat-coret dan
digambari sembarangan, aku pun keluar ruangan. Menghela nafas panjang dan
berharap tulisanku tidak ditertawakan oleh keempat dewan juri yang terhormat.
Yah setidaknya sehabis perlombaan lumayan aku dapat snack gratis.
Pelajaran yang bisa – banget – diambil adalah, ternyata oh
ternyata, sebuah persiapan sangatlah dibutuhkan kawan!
Kita tidak bisa hanya mengandalkan ingatan kita yang terkadang sangat seadanya. Seorang pemenang adalah orang yang banyak persiapannya selain berusaha keras disaat mengikuti sebuah kompetisi.Aku menyadari itu semua ketika pulang ke kosan, makan snack karena cukup kelaperan, dan memindai ulang semua kejadian yang baru aja terjadi. Untung engga sambil masang musik galau hahaha.
kalau galau2 gitu mah aku banget,,,
ReplyDelete