Tuesday, December 11, 2012

Buka Bukunya : 23 Episentrum


"Kebodohan atau kejahatan terbesar adalah ketika kita dikasih talenta, tapi kita tidak tahu dan tidak kita kembangkan" - Tumpal Tampubolon

Bagi saya, buku ini adalah sebuah wujud atau hasil dari berbagai formula yang membentuk sesuatu yang jenius! 
Ide-ide 'abstrak' bisa terdeskripsikan dengan jelas di buku ini. Walaupun saya baru membaca novelnya (bukan kumpulan cerita-nya) tapi saya sudah cukup merasakan ruh semangat penulisnya. Baru kali ini saya baca buku fiksi yang berkonsentrasi penuh dalam ‘penyaluran’ energi semangat meraih impian hidup.
Semua kalimatnya penuh semangat, cinta, dan ketulusan. Berkat tiap paragrafnya, saya merasakan sebuah hawa tuntutan untuk melaksanakan apa yang di ajarkan novel ini. Secara keseluruhan saya beri bintang 9/10. Nilai penuh untuk novel pembakar semangat!
Satu hal yang terus berenang di otak saya, bagaimana proses pembuatan buku ini.
Sebuah hal yang belumpernah terlintas di benak saya. Padahal bermacam-macam jenis buku sudah pernah di telan bulat-bulat. Saya menyerap sari-nya. Tapi hanya sementara. Saya serap ilmunya, tapi tidak pernah berkeinginan untuk melihat bagaimana proses penyaluran ilmu itu sehingga – setidaknya- saya bisa menyalurkan kembali ilmu tersebut. Buku ini membuat saya melihat dengan cara lain.
Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada semua orang, kecuali anak SD kayanya. Hahahaha. Anak SMP, masih boleh lah , asal bisa nangkep aja isi sebenarnya dan jadinya malah engga kepengen keluar dari sekolah.
--
Oke, mari kita menulis resensi dengan cara 'kuno' yang harus saya senangi (apaan sih?! haha)

Judul               : 23 Episentrum
Penulis            : Adenita
Penerbit          : Grasindo
Waktu terbit   :2012
Jumlah hlm     :278
Harga              : pinjem dari Anti, sementara ini. Harga asli menyusul (mau rencana beli. Ehehe)
Trivia              : selesai baca buku kedua sesaat sebelum nulis resensi ini :P

"iya... ya. . . , kenapa semua orang senang banget nyiksa diri mereka dengan kemewahan semu. Cuma masalah pengelolaan uang saja ternyata"Matari 
sebenernya mungkin udah lama, jiwa itu ada dalam diri gue.. tapi semua ini terbuka gara-gara perjalanan hati gue kemarin. Gue ini kurang berbagi. Makanya, hati gue keras. Dari kemarin yang gue urusin Cuma urusan diri sendiri” - Prama  
“you can solve the problem, if you can state it” Awan

Pernah baca buku motivasi kan? Sering baca quotes dari orang-orang sukses?
Nah buku ini seperti perpanjangan dari untaian makna dan kutipan-kutipan dari orang-orang sukses yang senang berbagi kebahagiaan. Senang berbagi kail untuk semua orang.
Mungkin saya bisa nulis kutipan yang lebih dalem maknanya, dialog-dialog yang lebih cerdas, sebuah deskripsi edan yang sangat kaya pengetahuan, tapi saya pilih kalimat-kalimat di atas secara acak dan sederhana karena saya yakin pembaca yang lain akan menemukan hal-hal ajaib yang ada di buku ini. Saya ingin menularkan sensasi yang dirasakan saat membaca halaman terakhir : Kagum!
Melalui kutipan diatas, saya berharap bisa memancing para pencari ilmu lainnya untuk membaca sendiri dan menggali titik ilmu yang dicari. Saya sudah berbagi spoiler, jadi tinggal teman-teman yang hobi baca lainnya yang melanjutkan mau membaca atau tidak.
Seperti yang telah dituliskan para pe-review- buku, 23 Episentrum bagian pertama, berisi tentang kisah tiga orang anak muda dalam mencari titik episentrumnya masing-masing di dalam hidup, yang sukses memberikan sumber inspirasi.
Penulisnya memiliki gaya menulis yang santai, mengalir, tapi makna-nya dalam, yang menjadi salah satu kelebihannya.
Duh, saya bingung mau tulis apa lagi.
Baca dulu yang lain deh. Ahahahaha

      # ten minutes later
Oke, setelah baca review dari orang lain, saya pikir inilah keberuntungan dari tidak mengetahui sesuatu. Kenapa?
Karena saya belum membaca 9 matahari, saya tidak bisa membandingkan sesuatu.
Saya juga tidak menyuarakan kekurangan buku yang jadi sumber inspirasi ini, walaupun kekurangan itu telah dituliskan oleh seseorang dan saya cukup setuju, tapi saya tetap akan menjadikan poin 9 dari 10 ini tetap pada posisinya.

#weeks later

Akhirnya saya baca buku kedua-nya juga.
Teteup, buku ini berbintang 9 dari 10. Saya harus akui bahwa buku yang kedua lebih membakar semangat karena kisah yang diceritakan berasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. lebih dekat dari kisah 3 orang di buku pertama. 

Saya jadi bertanya-tanya, dimanakah titik episentrum saya.
Kamu juga. iya kan?

#silent moment

Iya pokoknya yang udah baca buku ini mungkin akan bertanya-tanya juga seperti saya. Karena kedua buku ini memberikan inspirasi yang anak muda banget. Menyentuh kami para penjelajah kehidupan yang baru menapak di tahun-tahun belasan.

Semoga semakin banyak orang bangsa ini yang berkarya dan bisa mengharumkan nama Indonesia! amin.

No comments:

Post a Comment