"Kebodohan atau kejahatan terbesar adalah ketika kita dikasih talenta, tapi kita tidak tahu dan tidak kita kembangkan" - Tumpal Tampubolon
Bagi saya, buku ini
adalah sebuah wujud atau hasil dari berbagai formula yang membentuk sesuatu
yang jenius!
Ide-ide 'abstrak' bisa
terdeskripsikan dengan jelas di buku ini. Walaupun saya baru membaca novelnya
(bukan kumpulan cerita-nya) tapi saya sudah cukup merasakan ruh semangat
penulisnya. Baru kali ini saya baca buku fiksi yang berkonsentrasi penuh dalam
‘penyaluran’ energi semangat meraih impian hidup.
Semua kalimatnya penuh
semangat, cinta, dan ketulusan. Berkat tiap paragrafnya, saya merasakan sebuah
hawa tuntutan untuk melaksanakan apa yang di ajarkan novel ini. Secara
keseluruhan saya beri bintang 9/10. Nilai penuh untuk novel pembakar semangat!
Satu hal yang terus berenang
di otak saya, bagaimana proses pembuatan buku ini.
Sebuah hal yang
belumpernah terlintas di benak saya. Padahal bermacam-macam jenis buku sudah
pernah di telan bulat-bulat. Saya menyerap sari-nya. Tapi hanya sementara. Saya
serap ilmunya, tapi tidak pernah berkeinginan untuk melihat bagaimana proses
penyaluran ilmu itu sehingga – setidaknya- saya bisa menyalurkan kembali ilmu
tersebut. Buku ini membuat saya melihat dengan cara lain.
Buku ini sangat saya
rekomendasikan kepada semua orang, kecuali anak SD kayanya. Hahahaha. Anak SMP,
masih boleh lah , asal bisa nangkep aja isi sebenarnya dan jadinya malah engga
kepengen keluar dari sekolah.
--
Oke, mari kita menulis
resensi dengan cara 'kuno' yang harus saya senangi (apaan sih?! haha)
Judul : 23 Episentrum
Penulis : Adenita
Penerbit : Grasindo
Waktu terbit :2012
Jumlah hlm :278
Harga : pinjem dari Anti, sementara ini. Harga asli
menyusul (mau rencana beli. Ehehe)
Trivia : selesai baca buku kedua sesaat sebelum nulis resensi ini :P
"iya... ya. . . , kenapa semua orang senang banget nyiksa diri mereka dengan kemewahan semu. Cuma masalah pengelolaan uang saja ternyata" – Matari
“sebenernya mungkin udah lama, jiwa itu ada dalam diri gue.. tapi semua ini terbuka gara-gara perjalanan hati gue kemarin. Gue ini kurang berbagi. Makanya, hati gue keras. Dari kemarin yang gue urusin Cuma urusan diri sendiri” - Prama
“you can solve the problem, if you can state it” – Awan
Pernah baca buku
motivasi kan? Sering baca quotes dari
orang-orang sukses?
Nah buku ini seperti
perpanjangan dari untaian makna dan kutipan-kutipan dari orang-orang sukses
yang senang berbagi kebahagiaan. Senang berbagi kail untuk semua orang.
Mungkin saya
bisa nulis kutipan yang lebih dalem maknanya, dialog-dialog yang lebih cerdas,
sebuah deskripsi edan yang sangat kaya pengetahuan, tapi saya pilih
kalimat-kalimat di atas secara acak dan sederhana karena saya yakin pembaca
yang lain akan menemukan hal-hal ajaib yang ada di buku ini. Saya ingin
menularkan sensasi yang dirasakan saat membaca halaman terakhir : Kagum!
Melalui kutipan
diatas, saya berharap bisa memancing para pencari ilmu lainnya untuk membaca
sendiri dan menggali titik ilmu yang dicari. Saya sudah berbagi spoiler, jadi
tinggal teman-teman yang hobi baca lainnya yang melanjutkan mau membaca atau
tidak.
Seperti yang
telah dituliskan para pe-review- buku, 23 Episentrum bagian pertama, berisi
tentang kisah tiga orang anak muda dalam mencari titik episentrumnya
masing-masing di dalam hidup, yang sukses memberikan sumber inspirasi.
Penulisnya
memiliki gaya menulis yang santai, mengalir, tapi makna-nya dalam, yang menjadi
salah satu kelebihannya.
Duh, saya
bingung mau tulis apa lagi.
Baca dulu yang
lain deh. Ahahahaha
# ten minutes
later
Oke, setelah
baca review dari orang lain, saya pikir inilah keberuntungan dari tidak
mengetahui sesuatu. Kenapa?
Karena saya
belum membaca 9 matahari, saya tidak bisa membandingkan sesuatu.
Saya juga tidak
menyuarakan kekurangan buku yang jadi sumber inspirasi ini, walaupun kekurangan
itu telah dituliskan oleh seseorang dan saya cukup setuju, tapi saya tetap akan
menjadikan poin 9 dari 10 ini tetap pada posisinya.
#weeks later
Akhirnya saya baca buku kedua-nya juga.
Teteup, buku ini berbintang 9 dari 10. Saya harus akui bahwa buku yang kedua lebih membakar semangat karena kisah yang diceritakan berasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. lebih dekat dari kisah 3 orang di buku pertama.
Saya jadi bertanya-tanya, dimanakah titik episentrum saya.
Kamu juga. iya kan?
#silent moment
Iya pokoknya yang udah baca buku ini mungkin akan bertanya-tanya juga seperti saya. Karena kedua buku ini memberikan inspirasi yang anak muda banget. Menyentuh kami para penjelajah kehidupan yang baru menapak di tahun-tahun belasan.
Semoga semakin banyak orang bangsa ini yang berkarya dan bisa mengharumkan nama Indonesia! amin.
No comments:
Post a Comment