--
Setiap hari matahari menyambut makhluk-makhluk yang ada di bumi dengan sinarnya yang bagi sebagian makhluk adalah pertanda untuk babak perjalanan hidup baru, harapan baru, semangat baru, yang selalu diberikan Tuhan sehingga hari ini harus lebih baik dari kemarin adalah moto hidup semua umat. Namun, sebagian mahkluk lain memiliki penyambutan berbeda terhadap hari.
Seorang anak perempuan yang baru dua tahun menimba ilmu di sebuah universitas pendidikan di Bandung, telah hidup dalam kesia-siaan. Angka yang terkalkulasi barulah 18, tapi kualitas hidupnya tidak sejalan dengan umur yang di tambahkan tuhan pada setiap bulan ke 4 di hari ke 23. Perempuan itu selalu mengeluhkan setiap jengkal ruang hidupnya. Mulai dari kegagalannya masuk universitas impian, tidak pernah juara satu sepanjang karir sekolahnya, dikhianati sahabat, kekurangan uang saku, kehilangan uang tabungan, sepatu yang kembali rusak karena sering kehujanan, sifat pelupa yang menahun, sulit mengendalikan emosi, menyalahkan kedua orangtua yang ia rasa menjadi penyebab sumber 'kemarahan'nya, mengeluhkan tugas kuliah yang semakin menggila, kisah asmara yang tidak pernah berakhir dengan indah, dan sejuta keluhan lain yang setiap hari ia pahat dalam pikirannya. Bukan menasbihkan nama tuhan, ia malah terlalu 'sibuk' memahat kisah hidup yang ia rasa semakin menyedihkan. Tidak pernah terucap kata syukur, atau bahkan memikirkan hal positif dalam hidupnya. Semua serba sia-sia. Ia menyadari hal itu. Tapi ia selalu jatuh di lubang yang sama. Lubang yang menghisap semua semangat dan hanya meninggalkan keluhan. Lebih menyedihkannya lagi, ia tidak pernah terpikir untuk berdoa kepada sumber dari segala kebaikan untuk menolongnya untuk keluar dari lubang tersebut.
Namun suatu hari, ketika perempuan itu merasa senyuman Tuhan padanya telah semakin memudar, terjadi badai dalam jiwanya sehingga ia membuka perjalanan hari itu dengan perasaan lain yang beda dari sebelumnya.
Biasanya ketika Ia bangun dari alam tidurnya, belum sempat ia mengucap syukur karena ruh-nya telah di kembalikan ke dalam tubuh seperti biasanya, ia sudah mengumpat karena jam di kamar berteriak keras bahwa ia telah terlambat untuk menunaikan shalat. Tapi hari itu ia bangun sebelum azan berkumandang. Ia melemaskan otot-otot dalam tubuhnya sebelum bangkit untuk mengambil air wudzu. Ia berjalan tersaruk-saruk dan mengantuk hingga kakinya terantuk sesuatu. Ruangan kamarnya gelap karena ia memang terbiasa mematikan lampu menjelang tidur. Ketika Ia mencoba untuk berdiri tegak, tiba-tiba saja ia teringat seseorang yang dulu sangat dikaguminya melalui layar televisi. Seorang penyanyi tuna netra yang sekarang kebetulan berada satu fakultas dengannya. Keningnya berkerut ketika memikirkan bagaimana caranya penyanyi yang suaranya sangat merdu itu untuk sekedar mengambil air wudhu. Mungkinkah ia harus menelusuri dinding rumah hingga menemukan kamar mandi? Apa ia harus benar-benar menajamkan indera perabanya untuk mencari keran air lalu memutarnya dengan arah yang benar? Tidak terbayang bagaimana kesulitannya untuk pergi dari rumah menuju kampus. Apa ia diantar seseorang? Bagaimana caranya ia menemukan tangga atau lift menuju kelas yang berada di lantai 5? Segudang pertanyaan tak terjawab terus berusaha menyerang kepalanya seperti virus.
Waktu terus merangkak naik hingga perempuan itu selesai bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Ketika ia baru saja mengunci gerbang rumahnya, ia dikagetkan oleh seorang anak lelaki yang hampir menubruknya ketika hendak berlari menuju sebuah halaman. Perempuan itu mengikuti anak tersebut hingga ia menemukannya sedang asyik memberi makan seekor kelinci yang sedang berkeliaran. Anak lelaki itu kegirangan ketika wortel yang dibawanya dilahap hingga habis. Awalnya ia hanya mengelus-elus kelinci tersebut tapi lama kelamaan ia mengangkat makhluk tidak berdaya itu dengan cara menarik kedua telinganya tinggi-tinggi. Dengan perasaan kaget sekaligus ngeri, perempuan itu berusaha untuk menarik tangan anak laki-laki itu untuk melepaskan kelinci yang terus meronta minta dibebaskan. Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya berjalan tergopoh-gopoh dan memanggil nama anak tersebut. Ia meminta maaf pada perempuan itu atas ulah anak lelakinya – seperti yang sering ia lakukan hingga ia merasa bosan. Di depan perempuan itu, sambil memaki dan memarahi, ia memukul tangan putranya hingga kedua tangan mungil itu berubah kemerahan. Anak itu memekik lalu menjerit keras. Ia meronta-ronta karena tidak ingin di ajak pulang kerumah. Ia sama sekali tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang disekitarnya karena ada gangguan dalam tubuh yang dibawa sejak lahir. Seingat perempuan itu, anak tersebut setiap harinya selalu dihujani kemarahan karena perilakunya yang di anggap 'mengganggu'.
Teringat janjinya untuk bertemu seorang teman demi menyelesaikan sebuah tugas ia pun berlari untuk mengejar angkutan kota yang baru melintas di depannya. Baru saja ia duduk di kursi penumpang, ia menemukan sesosok wanita yang selalu menjadi panutannya. Ia adalah seorang guru biologi yang terkenal akan keceriaannya ketika mengenalkan bermacam-macam makhluk hidup. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya walaupun ia memiliki sebuah kelainan yang tidak akan ada satu pasang mata pun yang tidak bisa mendeteksinya.
Pahlawan tanpa tanda jasa itu pernah berkata, bahwa kondisi tubuhnya tidak pernah menghalanginya untuk terus mengajar. Ia bahkan menyemangati anak didiknya untuk terus meraih impian dalam hidup setinggi-tingginya.
Sebagai seorang manusia yang tidak memiliki kekurangan pada tubuhnya, ia menatap wajah teduh guru-nya tersebut dengan penuh kekaguman. Ia ucapkan salam lalu menanyakan kabar. Kedua perempuan itu lalu menikmati momen kebersamaan mereka hingga tidak terasa mereka sudah berada di tempat yang sedang dituju. Mereka akhirnya berpisah dengan senyuman.
Hampir saja ia mengeluh karena kawan yang ditunggunya belum kunjung datang, sebuah iring-iringan yang dipimpin oleh seseorang berkursi roda membagi-bagikan pamflet kepada orang-orang disekitarnya. Perempuan itu mengenai sang 'pemimpin' di rombongan tersebut sebagai salah satu mahasiswa jurusan pendidikan luar biasa di universitas yang sama dengannya. Lama ia tertegun sebelum akhirnya rombongan itu berhenti tepat di depannya. Seorang pemuda dengan keterbatasannya dalam berbicara dan kesulitannya untuk berjalan, memberikan pamflet yang berisi tentang penentangan sistem kebijakan universitas yang akan merumahkan mahasiswa yang tidak bisa membayar uang kuliah hingga batas waktu yang telah ditentukan. Disamping segala keterbatasannya, ia dan rekan-rekannya mengajak semua orang untuk membantu kawan-kawan di luar sana yang sedang menghadapi masalah klasik di dunia pendidikan.
Niat tulus pemuda itu membangunkan hati nurani yang selama ini telah kering. Dengan penuh semangat, perempuan itu mengambil pamflet tersebut dan berniat menempelnya di madding kampus. Pemuda tersebut mengucapkan terimakasih sambil melambaikan tangan.
Hari mulai beranjak sore. Perempuan itu nampak kelelahan setelah berjibaku dengan tugas kuliah bersama temannya selama berjam-jam. Setelah merampungkan semua urusannya, ia bergegas untuk segera pulang. Ada perasaan ganjil di hatinya karena hampir seharian ini ia merasa sangat tenang dan – oh ia hampir hampir mengeluh, tapi untungnya tidak terjadi.
Ketika ia sudah tiba di halaman rumah, ia melihat keponakan sahabat karibnya sedang berada di teras – seperti biasa, anak perempuan yang serba ingin tahu itu selalu berkeinginan untuk masuk ke rumah orang lain untuk sekadar ber'tamu'. Bedanya anak satu ini tidak pernah mengucapkan permisi. Ia disebut-sebut sebagai anak dengan keterbelakangan mental. Perkataannya tidak bisa dimengerti. Tapi ia cukup penurut. Anak ini mengingatkannya pada anak laki-laki yang ditemuinya pagi tadi.
Perempuan itu anak itu untuk masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa lama, ia mulai bosan dan dengan sendirinya ia pulang.
Tiba-tiba saja perempuan itu menitikkan air mata. Tidak dapat ia bayangkan lebih jauh betapa beruntungnya ia karena tidak memiliki suatu kekurangan apapun. Lalu Ia mengingat kehidupannya selama ini yang penuh dengan kesia-siaan.
‘Badai’ itu akhirnya reda dan ia teringat Tuhan. Dengan penuh kerendahan hati, ia pun berdoa agar Tuhan memberinya kemudahan untuk mengingat semua orang-orang yang telah memberinya samudra inspirasi dan menjadikan hal itu sebagai acuan dalam langkah-langkah hidupnya kedepan.
---
Sahabat, pernahkah Anda membayangkan beberapa hal dalam hidup Anda dicabut begitu saja kenikmatannya oleh Tuhan? Misalnya saja ketika salah satu kuku jari tangan Anda ada yang hampir terlepas, atau sebuah sariawan di bibir Anda yang tidak lekas sembuh, atau Anda yang tiba-tiba saja terus cegukan tanpa henti, atau ketika tangan kanan Anda terkilir hingga tidak bisa difungsikan seperti biasanya.
Bagaimana dengan bermacam-macam kenikmatan lain yang Tuhan berikan sepanjang Anda bernafas? Apakah Anda pernah merenungkan seberapa banyak Anda bersyukur terhadap kenikmatan tersebut? Jika hati Anda mulai gelisah, mungkin kabar baik sedang menanti Anda.
Saatnya bertindak
Banyak manusia yang salah memaknai tubuh yang sehat sebagai kewajiban Tuhan untuk memberikannya pada mereka sehingga mereka banyak berleha-leha, padahal pada detik ini dan detik berikutnya, hidup mereka itu bisa menjadi sangat berbeda. Dan itu sangat mudah bagi Sang Pencipta. Ada benarnya jika mereka bisa menjadi sangat khawatir di tiap detik yang terus melaju.
Namun terlalu khawatir dan berakhir dengan kepasrahan juga bukan ide yang baik dalam memaknai tubuh yang sehat. Saatnya kita menggerakan setiap sel dalam tubuh ini untuk kebermanfaatan. Ukur kembali seberapa jauh perjalanan hati Anda untuk mengecek apakah hati tersebut masih berfungsi atau tidak. Coba sekarang dengan menarik nafas panjang, niatkan semua yang dilakukan hanya karena Allah, lalu mulailah langkah pertama sebagaimana yang sering dikatakan para juara bahwa sebuah pencapain terbesar dalam hidup itu dimulai dari sebuah aksi, bukan hanya angan.
Demi menghormati para difabel, berhentilah menstandarkan bentuk tubuh Anda dengan kebanyakan manusia di bumi yang dianggap ‘ideal’. Tahan diri Anda untuk bermimpi dianugerahi hal lain agar terlihat lebih ‘sempurna’. Mulailah untuk tersenyum pada setiap kromosom yang membentuk wujud fisik Anda.
Ketika kedamaian dalam diri telah terbentuk, Anda bisa melanjutkannya dengan memaksimalkan hidup Anda untuk hal lain yang Tuhan fitrahkan. Mulailah berkarya detik ini juga karena seperti yang dikutip dari buku yang berjudul Becoming A Star karya pak Mario Teguh, melakukan atau tidak, memulai atau menunda, kedua-duanya menggunakan waktu tapi hanya satu yang memiliki kemampuan untuk berhasil.
Laskar Senyuman
Sahabat,
Sayyib Qutb pernah bernasihat bahwa barangsiapa yang hidup untuk dirinya sendiri, maka ia akan hidup sebagai manusia kecil, dan mati sebagai manusia kecil. Namun barangsiapa yang hidup untuk orang lain, maka ia akan hidup sebagai manusia besar, dan tidak akan pernah mati selamanya. Dapat kita simpulkan bahwa tiap tindakan kita harus mendatangkan kebaikan bagi orang lain.
Sahabat,
Perjuangan kawan-kawan difabel di tiap helaan nafas mereka patut mendapatkan apresiasi dari kita sebagai agen yang bisa saling melengkapi. Kemampuan Anda membaca tulisan ini merupakan sebuah langkah awal.
Hidup kita sekarang sudah dikelilingi beragam alat canggih yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Penggunaan internet sudah seperti makan kacang goreng. Banyak manusia di berbagai belahan dunia bisa saling terhubung dengan mudah dan merasakan kenikmatannya. Tapi ingatlah, kepopuleran bermacam situs jejaring sosial bukanlah tanpa arti.
Pada setiap tanggal 3 Desember mari kita sebarkan semangat kawan difabel kita kepada seluruh dunia. Ingatkan kembali akan eksistensi mereka. Bangunkan para ‘petinggi’ dari tiap golongan untuk segera menyalurkan ‘kekuasaan’ mereka untuk hal yang lebih bermakna.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah di negeri ini kurang memperhatikan kebutuhan kawan-kawan difabel kita. Tengoklah kanan dan kiri Anda, sedikit sekali fasilitas Negara yang disediakan khusus untuk mereka. Jumlah peredaran buku Braille masih jauh dibawah angka harapan. Jalan masuk menuju tempat-tempat umum masih menyulitkan para pengguna kursi roda. Rumah untuk mengembangkan potensi sahabat kita yang ‘istimewa’ masih belum memadai. Mengusahakan sistem pendidikan yang ‘menyetarakan’ semua golongan terasa seperti sedang menyentuh bayangan.
Tapi bukan hidup namanya jika tidak ada tantangan. Dengan menggunakan hati dan pikiran yang seimbang dan melapangkan dada seluas-luasnya, kita telah maju selangkah untuk menemui kemudahan. Anggaplah kesulitan dan tantangan itu hanyalah sebesar atom. Jika kita melebarkan pandangan, jagad raya yang berisi miliaran galaksi ini akan menggempur kita dengan segala benda langit untuk menyadarkan bahwa kita dan masalah yang sedang dihadapi bukanlah apa-apa.
Sahabat, mari kita pegang tali yang sama, mengikuti komando dari pemimpin tertinggi dari segala kepemimpinan yang ada, raja dari semua kerajaan, untuk mengikuti fitrah yang diberikan kepada kita dengan melakukan semua kebaikan yang diperintahkan. Rubuhkan semua benteng yang membatasi kita dan sahabat difabel kita. Leburkan diri ini kedalam barisan penghancur keluhan dan menjadi pembangun senyuman. Bersama menjadi satu untuk menggapai tujuan kebahagiaan yang hakiki.
Sekarang saatnya mempraktikan ‘teori-teori’ yang telah didengar, dilihat, atau dibaca dalam meraih kesuksesan. Berpijaklah lalu terus naik ke pijakan selanjutnya hingga Anda mencapai puncak. Iringi desah nafas Anda dengan dzikir. Ketika Anda terantuk atau terguling dan berdarah-darah hingga kembali ke pijakan awal, tersenyumlah. Anda sedang ditempa untuk menjadi seorang laskar yang bertugas sebagai penyebar senyuman.
--
Tulisan ini didedikasikan kepada guru dan para sahabat difabel penulis (Ibu Yani, Yoga, Rena, Fiersha, dan seorang sahabat yang tidak diketahui namanya) yang selalu menghujani hati dengan kebermaknaan helaan nafas.
--
sumber gambar : http://25.media.tumblr.com/tumblr_mav6ouqsM21rhu2gao1_1280.jpg
No comments:
Post a Comment