Thursday, February 7, 2013

Buka Bukunya : Good Night Tweetheart


26 Januari 2012
Good Night Tweetheart
setelah hujan-hujanan ke toko buku, menguras tabungan di dompet, akhirnya novel satu ini ada ditangan saya bersama dengan To Kill a Mockingbird. Dan akhirnya saya selesai juga membacanya. Novel yang sangat ringan, tapi cukup menyentuh. Saya berusaha keras untuk tidak membenci novel ini, karena memang tidak ada hal yang patut dibenci. Tapi disisi lain saya juga susah untuk menyukai novel ini. Perasaan yang sulit dijelaskan itu *cie# membawa saya pada suatu kesimpulan. Saya bisa menilai secara netral, menghargai penulisnya, dan menuliskan sisi kelebihan dan kekurangan buku satu ini.
Sebelumnya saya pernah membaca sebuah novel yang berjudul living in the refrigerator door yang berisi kumpulan post-it atau pesan-pesan antara seorang ibu dan anak perempuannya. Ketika saya membaca judulnya yang mengandung kata ‘tweet’ saya pun sudah membayangkan membaca tweet-tweet antara dua orang yang saling tidak mengenal.
Kekecewaan terdalam #uhuk yang saya rasakan adalah, hampir sebagian humor dalam novel ini tidak terasa lucu bagi saya. Kening saya kadang harus berkerut ketika mencoba menemukan dimana titik lucunya karena seharusnya lelucon mereka itu lucu. Saya pernah membaca fanfic yang secara keseluruhan berisi percakapan dua orang anak muda, dan kasusnya sama kaya sekarang, kadang susah nemu titik lucu-nya. Tapi sarkasme yang ditulis Abby dan Mark dalam tweet mereka engga ngena buat saya. Mungkin ada beberapa yang membuat saya tiba-tiba terbahak tapi itu hanya terjadi selama beberapa detik. Selebihnya, well, saya berharap sekali bisa tinggal di New York jadi bisa ikut tertawa bersama Mark dan Abby.
Bagian cerita yang seharusnya mengharukan, esensinya jadi biasa saja karena saya pernah membaca cerita tersebut – tepatnya menonton- di sebuah drama series yang menceritakan kisah alzheimer. Bagian mengharukan lainnya juga cukup tertebak sehingga saya hanya bisa....oke ga usah pake nangis kayanya...oke bukunya ga usah dicela juga...lalu menutup buku tersebut, berusaha untuk tersenyum manis sebagai sebuah langkah penangkal rasa menyesal karena telah membelinya.
Satu hal lagi yang bikin saya kesal adalah gaya penerjemahan dalam buku ini yang kurang pas bagi saya. Tidak seperti The Kite Runner yang memiliki gaya penulisan/terjemahan yang sangat mengalir, sehingga seringkali humor dan ironi-nya terasa dengan sangat baik.
Kelebihan dari novel ini adalah .... endingnya.
Penulis tidak menceritakan bagaimana kisah Mark dan Abby ketika akhirnya mereka bertemu di dunia nyata dan menghadapi hubungan mereka selanjutnya mengingat ada sesuatu yang ‘menimpa’ Mark. Saya puas dengan eksekusi akhirnya karena mungkin itu yang terbaik bagi mereka #duh bahasa-nya.
Oke saya rekomendasikan Goodnight Tweetheart kepada para jomblo-ers untuk tetap semangat mencari pertemanan dengan lawan jenis di dunia maya maupun di dunia nyata dengan satu syarat – siapkan diri anda dengan kenyataan yang akan menyergap Anda. Hahaha.
Oiya satu hal menarik lainnya yang berhasil saya temukan di buku ini adalah nasihat dari Mark. Mungkin ini bisa ditujukan kepada para penulis yang sedang mengalami writers block.

Good night, tweetheart :)

No comments:

Post a Comment