26 Januari 2012
Good Night Tweetheart
setelah hujan-hujanan ke toko buku, menguras tabungan di dompet,
akhirnya novel satu ini ada ditangan saya bersama dengan To Kill a
Mockingbird. Dan akhirnya saya
selesai juga membacanya. Novel yang sangat ringan, tapi cukup
menyentuh. Saya berusaha keras untuk tidak membenci novel ini, karena
memang tidak ada hal yang patut dibenci. Tapi disisi lain saya juga
susah untuk menyukai novel ini. Perasaan yang sulit dijelaskan itu
*cie# membawa saya pada suatu kesimpulan. Saya bisa menilai secara
netral, menghargai penulisnya, dan menuliskan sisi kelebihan dan
kekurangan buku satu ini.
Sebelumnya saya pernah membaca
sebuah novel yang berjudul living in the refrigerator door
yang berisi kumpulan post-it atau pesan-pesan antara seorang ibu dan
anak perempuannya. Ketika saya membaca judulnya yang mengandung kata
‘tweet’ saya pun sudah membayangkan membaca tweet-tweet antara
dua orang yang saling tidak mengenal.
Kekecewaan terdalam #uhuk
yang
saya rasakan adalah, hampir sebagian humor dalam novel ini tidak
terasa lucu bagi saya. Kening saya kadang harus berkerut ketika
mencoba menemukan dimana titik lucunya karena seharusnya
lelucon mereka itu lucu. Saya pernah membaca fanfic
yang secara keseluruhan berisi percakapan dua orang anak muda, dan
kasusnya sama kaya sekarang, kadang susah nemu titik lucu-nya. Tapi
sarkasme yang ditulis Abby dan Mark dalam tweet mereka engga ngena
buat saya. Mungkin ada beberapa yang membuat saya tiba-tiba terbahak
tapi itu hanya terjadi selama beberapa detik. Selebihnya, well, saya
berharap sekali bisa tinggal di New York jadi bisa ikut tertawa
bersama Mark dan Abby.
Bagian
cerita yang seharusnya mengharukan, esensinya jadi biasa saja karena
saya pernah membaca cerita tersebut – tepatnya menonton- di sebuah
drama series yang menceritakan kisah alzheimer. Bagian mengharukan
lainnya juga cukup tertebak sehingga saya hanya bisa....oke ga usah
pake nangis kayanya...oke bukunya ga usah dicela juga...lalu menutup
buku tersebut, berusaha untuk tersenyum manis sebagai sebuah langkah
penangkal rasa menyesal karena telah membelinya.
Satu
hal lagi yang bikin saya kesal adalah gaya penerjemahan dalam buku
ini yang kurang pas bagi saya. Tidak seperti The Kite Runner yang
memiliki gaya penulisan/terjemahan yang sangat mengalir, sehingga
seringkali humor dan ironi-nya terasa dengan sangat baik.
Kelebihan
dari novel ini adalah .... endingnya.
Penulis
tidak menceritakan bagaimana kisah Mark dan Abby ketika akhirnya
mereka bertemu di dunia nyata dan menghadapi hubungan mereka
selanjutnya mengingat ada sesuatu yang ‘menimpa’ Mark. Saya puas
dengan eksekusi akhirnya karena mungkin itu yang terbaik bagi mereka
#duh bahasa-nya.
Oke
saya rekomendasikan Goodnight
Tweetheart
kepada para jomblo-ers untuk tetap semangat mencari pertemanan dengan
lawan jenis di dunia maya maupun di dunia nyata dengan satu syarat –
siapkan diri anda dengan kenyataan yang akan menyergap Anda. Hahaha.
Oiya
satu hal menarik lainnya yang berhasil saya temukan di buku ini
adalah nasihat dari Mark. Mungkin ini bisa ditujukan kepada para
penulis yang sedang mengalami writers
block.
Good night, tweetheart :)

No comments:
Post a Comment