Thursday, February 7, 2013

Buka Bukunya : Eat Pray Love


7 februari 2013
Akhirnyaaaa, setelah berbulan-bulan (atau hampir setahun lebih?) buku yang berjudul Eat Pray Love telah resmi selesai dibaca hahaha.
Salah satu alasan terkuat kenapa saya menunda terus untuk membaca ini adalah karena deskripsinya yang panjang-panjang sehingga mata kita dibuat lelah bahkan ketika hanya memandanginya saja!
Hampir sepertiga awal dari buku ini tidak saya sukai. Entah kenapa, saya bosan dibuatnya. Membaca perjalanan Liz untuk makan dan makan di Italia. Saya terkadang dibuat ‘lelah’ karena harus membaca deskripsi tentang makanan sedangkan saya disini kelaparan dan tergiur untuk makan pasta tapi tidak ada pasta di manapun (ehem curhat. maklum anak kost)
Bagian buku yang paling saya sukai adalah pada saat Liz berada di India – karena hal ini berhubungan erat dengan ke-ilahian versi penganut hindu. Sini saya perlihatkan bagian yang bagus-bagus.
Hal 207
meditasi vipassana mengajarkan bahwa kesedihan dan gangguan tidak dapat dihindari dalam hidup ini, tetapi jikakita dapat mempertahankan diri kita dalam keheningan yang cukup lama, kita, pada saatnya, mengetahui kebenaran bahwa semuanya (baik yang tidak mengenakkan dan yang mengenakkan) akhirnya akan berlalu.
Hal 212
Takdir, saya rasa, juga merupakan sebuah hubungan – sebuah permainan antara rahmat yang ilahi dan usaha sendiri yang disengata. Setengah darinya kita tidak dapat mengontrolnya; setengahnya lagi benar-benar berada di tangan kita, dan tindakan kita akan menunjukkan akibat yangterukur.
Hal 213
...tentu ini semua memerlukan latihan dan usaha (dalam mengendalikan pikiran)
.. ini merupakan sebuah kesadaran yang dilakukan terus menerus...
Hal 237
kekayaan kita- kesempurnaan kita – sudah bersama berama kita. Tetapi untuk mendapatkannya, kita harus meninggalkan ego kita kemudaian masuk dalam keheningan hati.
Dan sebuah pesan yang sudah ratusan kali diutarakan oleh para motivator, orang-orang sukses, ratusan pesan dari tuhan dalam kitabnya yang suci, bahwa kebahagiaan dapat diraih dari sebuah usaha.
Buku ini mengajarkan saya bahwa semua yang terjadi ini bisa kita ‘atur’ sesuai apa yang kita kehendaki – tentu saja atas ijin tuhan. Walaupun ada beberapa bagian yang tidak saya setujui, tapi konsep kedamaian, pentingnya menghargai budaya dan tradisi, dan konsep tentang cara berdoa yang baik, masuk ke dalam akal sehat saya dan sedikit ‘menampar’ saya atas hal-hal besar yang tidak saya lakukan karena saya tidak cukup percaya diri.
Oke, sekarang saatnya saya move on ke buku berikutnya. Selamat tinggal kisah Elizabeth Gilbert,terimakasih atas kisah perjalanan hidupnya, saya belajar dari sana - tanpa harus mengalaminya.
Anne Frank – i'm coming!

No comments:

Post a Comment