Bandung, 21 Januari 2013
22.03
Untuk yang pertama kalinya, saya sangat bersyukur telah memilih buku
yang tepat, untuk memilikinya. Karena buku ini sangat menyentuh
sanubari, menyesakkan dada, dan mengoyak jiwa. Pertama dalam sejarah,
kisah yang diceritakan menorehkan perasaan mendalam yang tidak bisa
diabaikan begitu saja.
The Kite Runner.
Buku ini telah ‘direkomendasikan’ oleh seorang kawan – yang
sekarang telah saya anggap sebagai kakak sendiri – pada waktu saya
masih kuliah di semester pertama. Itu berarti hampir 2 tahun yang
lalu.
Mungkin memang sekarang waktu yang tepat untuk benar-benar menghayati
kisah yang sangat luar biasa ini.
Ketegangannya, rasa penasarannya, rasa bersalah, kebahagiaan antar
dua orang sahabat, dua orang saudara, dan perasaan lainnya yang
mengiringi ‘perjalalan’ saya membaca kisah Amir ini. Jujur,
sebelum membaca, saya kurang yakin dengan isinya. Saya sering sekali
‘tertipu’ dengan iming-iming buku best seller. Seperti the
alchemist yang kurang menghentak – bagi saya – mungkin karena
saya tidak mengerti eksekusi akhirnya.
Intinya saya mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa sekecil atau
sebesar apapun kesalahan kita di masa lalu, akan selalu ada jalan
untuk menebusnya – asalkan kita berusaha untuk benar-benar
melakukannya.
Saya menangis tersedu-sedu ketika membaca halaman 236
Saya hampir kembali menangis ketika membaca pengakuan Sohram yang
mengatakan bahwa ia sangat lelah dengan semuanya, bahwa ia sangat
menginginkan kehidupan di masa lalunya TT.TT
Setelah membaca ini, saya jadi ingin sering berdoa semoga kedamaian akan terus berada ditengah-tengah kita dan para saudara
kita dibelahan bumi manapun (Mengingat sampai sekarang masih banyak peperangan di Palestina) amin.
No comments:
Post a Comment